TOKOH MUSLIM SPEKTAKULER

Kamis, 14 Oktober 2010

| | | 0 komentar
JENDRAL SOEDIRMAN, USTADZ SHALEH DARI KARANG NONGKO – NEGARA INI MERDEKA KARENA JIHAD FI SABILILLAH

السلام عليكم . بِسْــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو ل الله

الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد

Ada sebuah kenyataan dibalik seorang Panglima Besar Pertama, Jendral Soedirman yang selama ini seolah ditutup-tutupi, kalau tidak mau dibilang diusahakan untuk dihilangkan. Namun, sepandai pandainya tupai melompat, suatu waktu pasti terpeleset juga.

Selama ini yang kita kenal hanya JENDRAL SOEDIRMAN saja, sementara USTADZ SOEDIRMAN dilupakan, atau malah mungkin sengaja dihilangkan?

Kita diajarkan di sekolah bahwa Jendral Soedirman berperang dengan TAKTIK GERILYA, tapi mengapa seruan JIHAD FI SABILILLAH JENDRAL SOEDIRMAN dihilangkan dari pelajaran sekolah?

Panglima Besar Jendral Soedirman, Pejuang kemerdekaan yang mengobarkan semangat jihad, perlawanan terhadap kezaliman, membekali dirinya dengan pemahaman dan pengetahuan agama yang dalam, sebelum terjun dalam dunia militer untuk seterusnya aktif dalam aksi-aksi perlawanan dalam mempertahankan kemerdekaan negeri. Mengawali karir militernya sebagai seorang dai muda yang giat berdakwah di era 1936-1942 di daerah Cilacap dan Banyumas. Hingga pada masa itu Soedirman adalah dai masyhur yang dicintai masyarakat.

Lahir dari keluarga petani kecil, di desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Januari 1916. Ayahnya seorang mandor tebu pada pabrik gula di Purwokerto. Sejak bayi Soedirman diangkat anak oleh asisten wedana (camat) di Rembang, R. Tjokrosunaryo.

Ketika ia menjadi seorang panglima, Soedirman adalah seorang yang ditakuti lawan dan disegani kawan. Memiliki semangat berdakwah yang tinggi, dan lebih banyak menekankan pada ajaran tauhid, kesadaran beragama serta kesadaran berbangsa. Sebagai bagian dari hamba-hamba Allah, kepedulian akan kemurnian nilai-nilai ketauhidan terhadap masyarakat Jawa yang masih sangat kental dipengaruhi oleh adat istiadat.

Menjadi suatu kegiatan dakwah yang memiliki nilai strategis, karena dengan cara itulah semangat jihad untuk melakukan perlawanan dalam diri rakyat dapat terpompa dan terpelihara. Termasuk bagi seorang Soedirman, yang memulainya dari kepanduan Hizbul Wathon bagian dari Muhammadiyah.

Bakat dan jiwa perjuangannya mulai terlihat sejak dari kepanduan Hizbul Wathon ini, juga peningkatan kemampuan fisik dan penggemblengan mental. Bakat kemiliterannya ditempa melalui organisasi berbasis dakwah. Bahkan semangatnya berjihad telah mengantarkan Soedirman menjadi orang nomor satu dalam sejarah militer Indonesia.

Sebagai kader Muhammdiyah, Panglima Soedirman dikenal sebagai santri atau jamaah yang cukup aktif dalam pengajian “malam selasa”, yakni pengajian yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah di Kauman berdekatan dengan Masjid Besar Yogyakarta. Seorang Panglima yang istimewa, dengan kekuatan iman dan keislaman yang melekat kuat dalam dadanya.

Sangat meneladani kehidupan Rasulullah, yang mengajarkan kesederhaan dan kebersahajaan. Sehingga perlakuan khusus dari jamaah pengajian yang rutin diikutinya, dianggap terlalu berlebihan dan ditolaknya dengan halus.

Seorang jenderal yang shalih, senantiasa memanfaatkan momentum perjuangan dalam rangka menegakkan kemerdekaan sebagai bagian dari wujud pelaksanaan jihad fi sabilillah. Dan ini ia tanamkan kepada para anak buahnya, bahwa mereka yang gugur dalam perang ini tidaklah mati sia-sia, melainkan gugur sebagai syuhada.

Jangan kamu kira bahwa orang2 yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Qs.3 Ali Imran:169

Untuk menyebarluaskan semangat perjuangan jihad tersebut, baik di kalangan tentara atau pun seluruh rakyat Indonesia, Jenderal besar ini menyebarkan pamflet atau selebaran yang berisikan seruan kepada seluruh rakyat dan tentara untuk terus berjuang melawan Belanda dengan mengutip salah satu hadits Nabi Muhammad SAW: “Insjafilah! Barangsiapa mati, padahal (sewaktoe hidoepnja) beloem pernah toeroet berperang (membela keadilan) bahkan hatinya berhasrat perang poen tidak, maka matilah ia diatas tjabang kemoenafekan.”

“INSYAF-LAH! BARANG SIAPA MATI, PADAHAL (SEWAKTU HIDUPNYA) BELUM PERNAH TURUT BERPERANG (MEMBELA KEADILAN) BAHKAN HATINYA BERHASRAT PERANG PUN TIDAK, MAKA MATINYA IA DIATAS CABANG KEMUNAFIKAN!”

Perang gerilya yang dilakukan, tak luput dari mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Sewaktu berada di desa Karangnongko, setelah sebelumnya menetap di desa Sukarame, Panglima Besar Soedirman yang memiliki naluri seorang pejuang, menganggap desa tersebut tidak aman bagi keselamatan pasukannya. Maka beliau pun mengambil keputusan untuk meninggalkan desa dengan taktik penyamaran, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah besarta para sahabatnya saat akan berhijrah.

Setelah shalat subuh, Pak Dirman yang memiliki nama samaran Pak De dengan beberapa pengawal pergi menuju hutan. Mantel yang biasa dipakai olehnya ditinggal dalam rumah di desa itu, termasuk beberapa anggota rombongan yang terdiri dari Suparjo Rustam dan Heru Kesser. Pagi harinya Heru Kesser segera mengenakan mantel tersebut dan bersama Suparjo Rustam berjalan menuju arah selatan, sampai pada sebuah rumah barulah mantel tersebut dilepas dan mereka berdua bersama beberapa orang secara hati-hati pergi menyusul Soedirman.

Dan sore harinya pasukan Belanda dengan pesawat pemburunya memborbardir rumah yang sempat disinggahi Heru Kesser dan Suparjo Rustam, dan ini membuktikan betapa seorang Panglima sekaligus dai ini begitu menguasai taktik dan sejarah perjuangan dalam Islam.

Sebuah perjuangan yang penuh dengan kateladanan, baik untuk menjadi pelajaran dan contoh bagi kita semua, anak bangsa. Perjalanan panjang seorang dai pejuang yang tidak lagi memikirkan tentang dirinya melainkan berbuat dan berkata hanya untuk rakyat serta bangsa tercinta.

Penyakit TBC yang diderita, tidak menyurutkan langkah perjuangannya. Sampai akhir usianya, 38 tahun, Panglima Besar Jenderal Soedirman yang dicintai rakyat menutup hidupnya tanggal 29 Januari 1950, tepat hari Ahad. Bangsa ini mencatat satu lagi pejuang umat, yang lahir dari umat dan selalu berjalan seiring untuk kepentingan umat.

Indonesia dimerdekakan dengan pekik JIHAD FI SABILILLAH “ALLAHU AKBAR”



- - - - - - -
ana sharing dari sini
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

berhentilah menjadi gelas,.

Selasa, 12 Oktober 2010

| | | 0 komentar
Seorang murid datang kepada gurunya. Dengan wajah yang muram dan tak bersemangat, murid itu menceritakan berbagai masalah yang tengah ia hadapi kepada sang guru. Banyak sekali keluh dan kesah yang ia bagi. Dimatanya dunia seakan mau runtuh dan tak lagi berwarna. Hatinya penuh sesak oleh perasaan-perasaan gundah dan gelisah, murid itu seperti tenggelam oleh keputusasaan yang menggunung.
Kepada gurunya yang sangat ia hormati sang murid berkata
“Wahai guru... aku datang kepadamu demi mengharap sebuah pencerahan yang kuharap bisa mengurangi bebanku. Aku lelah dengan berbagai masalah yang tengah melandaku. Serupa ribuan ujung mata tombak yang di hujamkan ke dadaku, masalah bertubi-tubi datang silih berganti. Mengapa tuhan tidak memberiku sedikit saja waktu untuk sekedar bernafas lega”

Sang mursyid tidak langsung menjawab, malah tersenyum dan menepuk pundak muridnya yang sedang resah menunggu kira-kira apakah gerangan yang akan di katakan oleh gurunya itu. Dengan senyuman lembut nan meneduhkan sang guru mulai berbicara.
“nak... sebelum aku memberikan jawaban atas pertanyaanmu tadi. Coba kau ambil segelas air dan satu sendok garam”
segera sang murid berlalu dari hadapan sang guru dan kembali membawa segelas air dan sesendok garam yang diminta. “ini guru, aku sudah kembali dengan membawa segelas air dan satu sendok garam yang kau maksud.”
sang guru mempersilakan murid duduk berhadapan dengannya, lantas memerintahkan ia untuk menuangkan satu sendok garam yang dibawa tangan kanannya ke dalam gelas berisi air di tangan kirinya, untuk kemudian di aduk sampai larut.
Segera murid melaksanakan perintah gurunya itu tanpa banyak bertanya-tanya lagi. Kemudian sang guru menyuruh meminum air yang telah bercampur garam tadi kepada murid.
Belum di minumnya seteguk, hanya beberapa bagian lidah yang terbasahi oleh air garam tersebut. Sang murid meringis seraya berujar “asin guru...” guru pun terkekeh dan kembali menepuk pundak muridnya “tentu saja nak, air itu sudah tercampur dengan garam yang membuat rasanya menjadi asin”
kata sang guru masih dengan terkekeh melihat raut wajah muridnya yang meringis keasinan.
Lalu murid pun bertanya “ apa maksudnya guru memerintahkan aku membawa segelas air dan sesendok garam untuk kemudian meminumnya?”
guru menjawab “ ayo nak, mari ikut aku. Tapi sebelumnya ambilah sesendok garam lagi dan bawalah”

tak lama kemudian kedua orang murid dan guru itu telah sampai di sebuah tepian danau tak jauh dari rumah sang guru.
Indah sekali danau itu, nampak sekali di sana air jernih yang memantulkan sinar matahari siang yang kekuningan. Di tepian danau itu terdapat pohon-pohon pinus yang tegak tertanam dan teratur berjajar rapi mengelilinginya. Burung-burung berkicau riang hinggap di antara dahan dan ranting dari satu pohon ke pohon yang lain. Sungguh menyejukkan suasana di tepian danau nan indah itu.
Mata sang guru nampak menebar pandangan ke sekeliling seperti mencari sesuatu yang hendak dipergunakan untuk duduk. Dan berhenti pada sebuah batu yang agak datar, dan Ia pun memulai bicara.
“nak sekarang coba tebarkan garam yang kamu bawa itu ke atas danau lalu minumlah air dari danau ini”
Sang murid melakukan perintah gurunya, menebar garam di atas danau lantas dengan kedua tangan ia berkali-kali meneguk air danau sampai puas, hingga hilang rasa asin yang sedari tadi ia tahan untuk tidak memuntahkannya di depan sang guru yang sangat ia segani tersebut. “ah... segar guru” kata murid itu kepada gurunya.
Guru kembali terkekeh,
kemudian dengan pandangan kasihnya kepada murid, sang guru menjelaskan perihal pertanyaan yang di ajukan kepadanya
“Nak. Itulah yang menjadi jawaban, masalah dalam hidup tak ubahnya dengan sesendok garam, tak lebih dan tak kurang. Hanya sesendok garam. Masalah yang di hadapi oleh setiap manusia di dunia ini bergantung pada sebesar apa hatinya. Jika kita ibaratkan hati ini seperti sebuah gelas dan danau. yang perlu engkau lakukan ialah, berhentilah menjadi gelas. Karena di dalam gelas yang berukuran kecil sesendok garam akan terasa sangat asin. Jadilah danau yang lebih luas dan menampung banyak air, sehingga sesendok garam itu takkan terasa keasinannya.”

- - - - - - -
semoga hati kita bisa menjadi danau, agar segala permasalahan yang pahir dapat dengan mudah dan ringan untuk terikhlaskan,. Amiin,.
ana sharing dari sini
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO